Niat Puasa Syawal dan Lima Keutamaannya

By 2 tahun lalu 5 menit membaca

Puasa Syawal adalah salah satu ibadah puasa umat Islam yang dilaksanakan setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan. Berdasarkan kalender Hijriyah, setelah bulan Ramadan berlalu, maka umat Muslim akan merayakan Idul Fitri. Nah, setelah Idul Fitri, barulah mereka akan melaksanakan puasa Syawal.

Ibadah puasa Syawal menawarkan keutamaan istimewa, sehingga umat Islam wajib mematuhi seluruh ketentuan fikihnya secara tertib. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai puasa Syawal, meliputi niat, hukum, waktu pelaksanaan, serta beberapa hal penting terkait dengan puasa Syawal. Simak sampai habis, ya!

Niat Puasa Syawal

Niat merupakan salah satu elemen penting dalam menjalankan puasa Syawal. Sungguh, niat tersebut haruslah tulus dan ikhlas untuk mengharapkan pahala serta keridhaan Allah SWT. Amalan ini membuktikan kesungguhan berpuasa sekaligus mengekspresikan rasa syukur atas nikmat Ramadan yang telah umat Muslim nikmati sepanjang satu bulan penuh.

Niat puasa Syawal dilakukan sebelum memulai ibadah puasa pada pagi hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Berikut adalah lafal niat Puasa Syawal yang dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.”

Baca Juga: Tata Cara dan Bacaan Sholat Jenazah

Hukum Puasa Syawal

Hukum puasa Syawal tergolong sunah muakad, sehingga menuntut umat Islam untuk menunaikannya secara bersungguh-sungguh. Puasa Syawal bukan termasuk ibadah wajib seperti puasa Ramadan, namun pahalanya sangat besar. Melaksanakan puasa Syawal menunjukkan rasa syukur atas nikmat Ramadan dan kesungguhan untuk terus memperbanyak ibadah setelahnya.

Namun, hukum sunah muakad ini mengikat para mukalaf yang sudah menuntaskan puasa Ramadan serta tidak lagi menanggung utang puasa wajib. Sedangkan bagi mereka yang masih mempunyai tanggungan puasa karena sakit, musafir, atau lainnya, maka hukum puasa Syawal menjadi makruh.

Dalil Puasa Syawal

Umat Islam sebaiknya menunaikan puasa sunah Syawal selama 6 hari tepat setelah Idulfitri, yakni pada tanggal 2 hingga 7 Syawal, seraya melafalkan niat puasa tersebut. Salah satu dalil yang menguatkan puasa Syawal ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. Sebagai berikut:

أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh,” (HR Muslim).

Baca Juga: Iman Tertinggi Meyakini Allah Selalu Bersama Kita

Ketentuan Puasa Syawal

Ketentuan apa saja yang wajib umat Islam taati sewaktu menunaikan ibadah puasa Syawal? Berikut pembahasan ketentuan puasa Syawal yang mengusung format tanya-jawab (Q & A).

Kapan Puasa Syawal Bisa Dimulai dan Berapa Lama?

Umat Islam dapat mengawali puasa Syawal tepat setelah menuntaskan ibadah puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri. Puasa ini berlangsung selama enam hari pada bulan Syawal. Kendati para ulama sering menganjurkan umat Islam untuk menunaikannya secara berturut-turut sejak awal bulan, syariat pada dasarnya tidak mewajibkan pelaksanaan puasa secara berurutan. Seseorang tetap boleh mengamalkan puasa Syawal secara terpisah-pisah sepanjang bulan Syawal masih berlangsung.

Sebagian ulama mengutamakan pelaksanaan puasa Syawal secara beruntun setelah Idulfitri demi memperlihatkan semangat menyegerakan kebaikan. Namun, ada juga ulama yang berpendapat bahwa pelaksanaan secara tidak berurutan tetap mendapatkan keutamaan yang sama selama jumlahnya genap enam hari. Oleh karena itu, umat Islam dapat menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Umat Islam perlu memperhatikan larangan berpuasa pada 1 Syawal, sebab syariat mengharamkan puasa pada hari perayaan Idulfitri tersebut. Oleh sebab itu, umat Islam baru dapat mengawali puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal dan melanjutkannya hingga penutupan bulan.

Baca Juga: Ragu Membaca Fatihah saat Shalat: Bolehkah Diulang?

Bolehkah Puasa Syawal Sebelum Membayar Hutang Puasa?

Sebagai ibadah sunah, sebagian ulama memakruhkan—atau sekadar membolehkan—umat Islam menunaikan puasa Syawal saat masih menanggung utang puasa Ramadan yang belum tuntas. Namun, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memprioritaskan pelunasan utang puasa wajib terlebih dahulu sebelum menunaikan puasa sunah seperti puasa Syawal.

Bolehkah Puasa Syawal Dirapel dengan Bayar Hutang Puasa?

Syariat melarang umat Islam menggabungkan (merapel) niat puasa Syawal dengan pelunasan utang puasa wajib secara bersamaan. Kedua ibadah ini memiliki keutamaan dan hak tersendiri. Umat Muslim tidak bisa mengganti keistimewaan puasa Syawal sekadar dengan membayarkan utang puasa, maka mereka sebaiknya menjalankan kedua amalan ini dalam waktu terpisah.

Baca Juga: Bacaan Sholat, Tata Cara, Rukun, Jumlah Rakaat & Syarat Sahnya

Keutamaan Puasa Syawal

Keutamaan puasa Syawal bagi umat Muslim antara lain yakni sebagai berikut:

1. Penyempurna Puasa Ramadan

Salah satu kegunaan dari melaksanakan ibadah sunnah adalah untuk melengkapi pelaksanaan ibadah wajib. Seperti sholat sunnah rawatib (sebelum dan setelah) yang dapat melengkapi pelaksanaan shalat wajib. Hal yang serupa juga terjadi pada puasa Syawal, yang merupakan puasa sunnah yang dapat melengkapi puasa wajib Ramadan.

2. Pahala Puasa Satu Tahun

Dalam Al-Qur’an, surat Al-An’am ayat 160 menyebutkan bahwa setiap amal ibadah akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat. Melalui perhitungan ini, Allah melipatgandakan pahala satu bulan puasa Ramadan setara sepuluh bulan, serta membalas enam hari puasa Syawal setara enam puluh hari atau dua bulan.

Dengan demikian, umat Islam yang menggabungkan ganjaran sepuluh bulan dan dua bulan ini mengumpulkan pahala genap dua belas bulan alias satu tahun. Kendati demikian, hamba yang bijak hendaknya menunaikan ibadah dengan keikhlasan murni dan ketaatan penuh kepada Allah SWT tanpa sibuk mengalkulasi besaran pahala yang akan ia raih.

3. Sebagai Bukti Rasa Syukur

Pelaksanaan puasa Syawal membuktikan rasa syukur seorang hamba atas anugerah Allah SWT sepanjang Ramadan, baik berupa kesempatan menuntaskan berbagai ibadah maupun jaminan ampunan bagi hamba yang beribadah selama bulan suci tersebut.

4. Menjaga Konsistensi Ibadah

Pasca-Ramadan, umat Islam sebaiknya meneruskan berbagai amalan ibadah yang telah mereka bina sepanjang bulan suci tersebut tanpa menyisakan jeda. Syariat menyeru umat Muslim untuk merawat konsistensi ibadah—seperti berpuasa dan mengaji Al-Qur’an—secara berkelanjutan. Umat Muslim membuktikan konsistensi puasa Ramadan mereka melalui penunaian puasa sunah Syawal secara berkelanjutan.


Demikian penjelasan mengenai puasa Syawal, mulai dari bacaan niat puasa Syawal, hukum, dalil, ketentuan, hingga keutamaan dari puasa Syawal bagi umat Islam. Bagi kamu yang ingin menjalankan puasa Syawal setelah berakhirnya Ramadan dan Idul Fitri, jangan lupa untuk membaca niat dan memahami terlebih dahulu ketentuan-ketentuannya, ya….
Semoga ibadah kita senantiasa diterima oleh Allah SWT aamiin.

BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Recent Posts

x
x
Niat Puasa Syawal dan Lima Keutamaannya
Menu
Cari
Bagikan
Lainnya
0%